Terancam Saat Ke Masjid: Kewaspadaan Korporat

  • Bagikan
7 September 2021


Hotel Amaris Palembang di pagi buta. Pagi itu azan di gadget saya berbunyi. Pertanda subuh sudah datang. Tanpa pikir panjang saya bersiap untuk keluar kamar mencari masjid terdekat. Info dari Google Map masjid terdekat berada pada jarak 350 meter dari hotel. Terjangkau dengan jalan kaki dari hotel di kawasan Demang Lebar Daun ini.

Jalan kakinya tidak masalah. Tapi saya pun berpikir tentang keamanannya. Mengapa? Karena saya pernah ada pengalaman buruk berjalan kaki di kota pempek ini.  Sekitar 3 tahun lalu. Ketika itu saya joging pagi. Sesuatu yang selalu saya lakukan minimal 2x seminggu selama 1 jam di mana pun berada.

Nah, karena saya sudah sering joging di kota yang terkenal dengan jembatan Amperanya itu, saya pikir segala sesuatunya baik-baik saja. Saya tidak dalam kondisi waspada ketika di perjalanan tiba-tiba ada orang naik motor berboncengan menghampiri saya dari belakang. Saya mengira itu teman saya yang sebelumnya sepakat untuk gabung joging. Ternyata bukan. Dua orang berboncengan itu adalah jambret. Dalam kondisi tidak waspada mereka merebut gadget yang ada di tangan saya. Lalu tancap gas. Semuanya berjalan dengan begitu cepat.

Maka pagi ini saya berangkat ke masjid dengan kewaspadaan. Agar pengalaman buruk tiga tahun lalu itu tidak terulang lagi. Beberapa poin kewaspadaan antara lain: mengenakan tas pinggang untuk menyimpan gadget dan dompet sekaligus berfungsi sebagai ikat pinggang untuk kain sarung yang saya akenakan, di perjalanan seminimal mungkin melihat gadget, kalau terpaksa melihat gadget posisi memegangnya harus dalam kondisi waspada, berjalan di sisi kanan jalan sehingga kendaraan yang lewat terpantau karena datang dari depan.

Di perjalanan tampak ada suara orang di kegelapan. Otomatis saya meningkatkan kewaspadaan. Saya amati mereka. Remang-remang terlihat dua orang berbadan besar. Satu duduk-duduk di atas jok sepeda motor. Satunya lagi duduk di kursi taman pinggir jalan. Yang duduk tampil menor khas waria. Saya pun berjalan dengan sikap lebih waspada. Posisi sarung saya tinggikan. Saya kencangkan kembali. Sedemikian hingga saya perkirakan bisa untuk melakukan manuver tendangan jika dibutuhkan. Hehehe….yang ini adalah sisa-sisa latihan dan melatih karate dan pencak silat masa remaja. Tapi alhamdulillah aman.

Selengkapnya klik https://korporatisasi.com/2021/03/15/terancam-saat-ke-masjid-kewaspadaan-korporat/

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *