Terlalu Banyak Orang Meninggal Sendirian di Jepang, Dibuatlah Alat Pendeteksi Jasad

  • Bagikan



Ketika ada yang meninggal sendirian, Toru Koremura bertanggung jawab merapikan rumah mereka. Tapi bukan barang-barang peninggalan saja yang mesti disingkirkan, dia juga harus menghilangkan bau menyengat dari jasad yang telah membusuk.

Menyaksikan betapa mudahnya membersihkan rumah terbengkalai—dulunya penuh kehidupan—hingga kinclong membuat hatinya terasa mengganjal. “Ketika kami membersihkan rumah orang yang tinggal sendirian, takkan ada yang mengingat mereka. Rasanya seolah-olah mereka tidak pernah hidup,” kata Koremura kepada VICE World News.

Namun, meski kondisinya terlihat seperti baru lagi, rumah-rumah ini susah laku karena adanya stigma yang melekat pada jiko bukken, alias properti yang ditinggal mati. Tuan tanah wajib memberi tahu calon pembeli kalau pemilik sebelumnya meninggal di rumah. Alhasil nilai rumahnya turun, dan orang ragu untuk membelinya.

Populasi Jepang yang kian menua memperburuk masalahnya bagi perusahaan real estat, membuat mereka cenderung tidak mau menerima penyewa yang sudah tua karena khawatir agen penjual harus menanggung biaya bersih-bersih seandainya mereka meninggal dunia dan jasadnya baru ditemukan setelah sekian lama — fenomena yang dikenal sebagai “Kodokushi”, artinya meninggal dalam kondisi kesepian karena tinggal sendirian.

Di Tokyo saja, tercatat 5.513 kasus kodokushi pada 2018, melonjak enam kali lipat dari jumlah pembunuhan yang terkonfirmasi di dalam negeri.

Perusahaan real estat terkemuka di Jepang, Suumo, mengungkapkan, harga properti yang ditinggal mati secara alami atau dengan kondisi kesepian turun sekitar 10-20 persen, 30 persen untuk rumah bekas bunuh diri dan sekitar 50 persen untuk properti yang pernah menjadi tempat pembunuhan atau kejahatan lainnya.

Karena itulah, pemerintah Jepang di bawah Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata merilis pedoman baru pada Minggu, yang menentukan kapan waktu terbaik memberi tahu kondisi semacam itu kepada calon pembeli. Agen real estat tidak diwajibkan untuk menginformasikan bahwa pemilik sebelumnya meninggal sendirian, atau rumahnya sudah dibersihkan jika itu terjadi lebih dari tiga tahun.

Menurut profesor Mitsunori Ishida dari Universitas Waseda, dampak sosial dari lonely death baru ramai diperbincangkan sekitar 10 tahun lalu.

Konon banyak orang yang tidak berkeluarga meninggal sendirian di tempat penampungan darurat pasca gempa bumi besar Hanshin pada 1995. “Tapi itu dianggap pengecualian karena terjadi di tempat penampungan. Namun pada 2000-an, ketika lebih banyak yang meninggal sendirian di rumah, orang mulai menganggapnya sebagai masalah,” terangnya.

“Hidup sendiri dihormati di sini; bahkan dilihat sebagai hak. Tapi jika kesendirian itu mengakibatkan lonely death, atau mereka memilih untuk menyendiri, sulit untuk dikatakan. Terserah individu masing-masing,” dia melanjutkan.

Agen perumahan ingin segera diberi tahu begitu ada yang meninggal sendirian di properti mereka. Tujuannya supaya jasad tidak membusuk di sana, dan proses bersih-bersihnya tidak terlalu mahal dan ribet.

Berbagai perusahaan berupaya menghadirkan solusi bagi masalah tersebut, salah satunya dengan memasang teknologi AI dan sensor gerak di rumah milik lansia. Alat semacam ini bisa mendeteksi saat penghuni tak lagi menunjukkan tanda-tanda bergerak.

Agen real estat R65 inc. fokus mencarikan rumah untuk warga di atas 65 tahun. Perusahaan ini menawarkan paket “Pemantauan yang Menenangkan” yang sudah dilengkapi pemasangan alat AI. Perangkat ini mencatat penggunaan listrik penghuni dan memantau setiap kejanggalan yang mengindikasikan seseorang mungkin telah meninggal. Jika aktivitas yang tidak biasa terdeteksi selama lebih dari 20 jam, panggilan suara otomatis akan menghubungi penghuni. Alatnya akan mengirim email ke tuan tanah atau agen penjual kalau tidak ada yang mengangkat.

Pendiri Ryo Yamamoto menyakinkan teknologi pencatat listrik ini tidak invasif dan akan melindungi privasi pengguna, masalah yang sering diperdebatkan para pembelinya. “Ada yang bertanya teknologinya benar-benar berfungsi atau tidak karena terlalu samar dan tidak mengganggu,” ungkapnya.

Tokyo Gas, penyedia gas dan listrik utama di sekitar wilayah ibu kota, telah merancang teknologi serupa. Perusahaan berencana memasang sensor di lebih dari 70.000 unit rumah mulai Desember mendatang.

Teknologi itu nyatanya tak hanya mempermudah perusahaan dan agen real estat saja, melainkan juga para penghuni rumah. Yamamoto berujar, banyak klien lansia yang tidak mau menjadi beban setelah meninggal dunia.

Ada suatu kemuliaan jika jasad mereka ditemukan sebelum membusuk. Menurutnya, banyak yang lebih memilih untuk ditemukan saat mereka kelihatan seperti sedang tidur.

“Alih-alih takut meninggal sendirian, klien kami justru khawatir jasadnya tidak cepat ditemukan atau dalam kondisi baik,” simpulnya.

Follow Hanako Montgomery di Twitter dan Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *