Tulamben, Cinta Pertama yang Tak Terlupakan

  • Bagikan
Menyelam di Tulamben



Traveling

oleh Fifin Maidarina

 

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah lautan lebih luas daripada daratannya. Tak heran jika banyak tempat wisata pantai dan laut yang menarik, menjadi favorit bagi pengunjung domestik maupun mancanegara. Terlebih bawah lautnya, Indonesia adalah surganya.

Pengalaman Menyelam Pertama Kali

Kenangan delapan tahun lalu bersama Nadia waktu itu masih membekas. Sebelum bersertifikasi, pertama kali menyelam dengan menggunakan SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus) atau Perangkat Bernapas Bawah Air adalah di Tulamben, Bali. Rasa ingin tahu dan khawatir berpadu jadi satu. Meski sama-sama sudah terbiasa dengan aktivitas snorkeling dan berenang ke kedalaman, ini tetap merupakan sensasi pertama yang tak terlupakan.

Tentu sebelum melakukan semuanya, diberikan briefing tentang pengenalan alat dan cara pakainya. Termasuk diberi kesempatan untuk mencoba di kolam dangkal, sampai dirasa benar-benar nyaman, baru dibawa ke laut.

Tipe penyelaman di Tulamben adalah shore dive atau masuk ke dalam laut dari pantai, bukan dari kapal di tengah lautan. Dengan peralatan lengkap yang sudah dipasang, beriringan melewati bebatuan khas tepian Pantai Tulamben. Sampai pada satu titik, diajak berjalan ke arah tengah lalu mencoba masuk perlahan, mulai dari satu meter sampai di kisaran tujuh meter. Mencoba bernafas normal melalui mulut yang tersambung pada regulator. Mengayuhkan kaki, bergerak menuju ke area shipwreck USAT Liberty, bangkai kapal cantik yang menjadi salah satu spot andalan di Tulamben. Mulai membiasakan diri, menolehkan kepala, melihat sekitar, dan berani menyapa ikan-ikan cantik yang berseliweran. Serasa berenang di kolam yang besar. Itulah yang meneguhkan diri untuk serius ambil sertifikasi menyelam agar bisa melihat kecantikan bawah laut Indonesia.

Menawarkan Racun Nikmat

Tahun lalu, giliran ngomporin teman untuk merasakan sensasi yang sama. Jadilah liburan berempat. Rany, yang sudah mengantongi sertifikasi menyelam, siap jadi model bawah laut. Sementara dua teman lainnya, Fakhril dan Gilang, siap jadi korban “racun” indahnya bawah laut. Siapa yang bisa menolak, jika diberi jaminan, “Kalian tidak akan menyesal!”

Bersama Rany, meluncur lebih dahulu ke Matahari Resort Tulamben, berjarak lebih kurang 95 km dari Bandara Ngurah Rai. Banyak resort di area Tulamben yang berada langsung di tepian pantai dengan budget yang tidak mahal. Di Matahari Resort Tulamben ini, kafe dan restonya berada di tepian pantai, sehingga menjadi salah satu jujugan yang menarik untuk menikmati sunset.

Sebenarnya banyak sekali tempat menyelam di Bali, tetapi Tulamben adalah salah satu spot menyelam yang nyaman digunakan untuk pemula. Masuk ke dalam lautnya mudah, tidak perlu jungkir balik dari kapal, lautnya tenang, cenderung tidak berarus, sehingga dipastikan aman untuk pemula. Suhu airnya pun cukup hangat.

Wawan, salah satu guide andalan yang biasa mengantar dan mendampingi para tamu untuk berkeliling bawah laut di Tulamben, wajib dihubungi setiap kali ke sana. Nah, kalaupun belum punya peralatan menyelam lengkap, tinggal didata kebutuhan apa saja dan disiapkan olehnya.

Berburu Bangkai Kapal

Spot andalan Tulamben, tentu saja bangkai kapal USAT Liberty. Jaraknya tidak jauh dari tepian pantai dan berdiam di kedalaman 5 – 30 meter sepanjang 120 meter. USAT Liberty merupakan kapal perang Amerika yang dibangun tahun 1918 sebagai kapal kargo untuk melayani kebutuhan militer Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Dalam perjalanannya, kapal ini ditorpedo oleh kapal selam Jepang, sehingga nyungsep ke dasar lautan. Badan kapal yang begitu besar membuatnya tidak bisa dipindahkan, lalu dibiarkan begitu saja di perairan Tulamben, Bali, sejak tahun 1942.

Saat ini, bangkai kapal tersebut menjadi begitu cantik karena rangka besinya telah ditumbuhi terumbu karang warna-warni dan ikan-ikan cantik berdiam di sekelilingnya. Penyelam bisa masuk ke celah lubang jendela, mengintip dari dalam atau menuju salah satu ujung kapal. Jua bisa numpang narsis di sekitarnya.

Rany di ujung bangkai kapal, dokumentasi Fifin

Setelah biasanya hanya memotret hewan bawah laut atau terumbu karang yang diam, kali ini Rany menjadi modelnya. Mengoperasikan kamera bawah laut memang tidak semudah di darat, sehingga Rany juga harus bersabar untuk menjaga keseimbangannya supaya tetap cantik difoto. Baju selam Rany yang penuh warna menambah keindahan hasil jepretan. Area wreck USAT Liberty ini juga sering dijadikan spot foto prewedding bawah laut, baik dengan SCUBA ataupun para free diver, yang masuk tanpa alat. Ini karena saking cantiknya bongkahan bangkai kapal ini.

Rany di sekitaran bangkai kapal, dokumentasi Fifin
Rany di sekitaran bangkai kapal, dokumentasi Fifin

Ikan Berkepala Nonong

Hal menarik lainnya adalah berburu foto schooling bumphead di pagi hari. Biasanya pukul 6 WITA, semua penyelam sudah harus masuk agar bisa berjumpa dengan ikan berkepala nonong itu. Ukuran bumphead bisa mencapai satu meter bahkan lebih. Ikan ini biasa bermain di sekitaran bangkai kapal tersebut. Munculnya hanya saat pagi hari. Penyelam bisa saja menemukannya sore hari saat matahari tenggelam, tetapi hanya menyaksikannya bersiap tidur dan tidak lincah bergerak. Kurang menarik untuk difoto.

bumphead, dokumentasi Fifin
bumphead, dokumentasi Fifin

Try Scuba

Usai penyelaman kedua, saatnya Fakhril dan Galang mencicipi pengalaman menyelam untuk pertama kalinya. Bapak dari Wawan bertugas mengawal mereka. Memulai dengan belajar menggunakan semua peralatannya sampai benar-benar nyaman, baru dibawa masuk ke dalam. Untuk try scuba biasanya dibawa di kisaran sampai tujuh meter saja dengan waktu penyelaman yang tidak terlalu lama. Namun, semuanya tergantung kenyamanan. Kalau dirasa nyaman, maka waktu penyelaman akan lebih lama dan mencoba masuk sedikit lebih dalam, hingga maksimal sepuluh meter. Namun, jika memang ada masalah atau mulai panik, penyelam akan dibawa naik perlahan dan bisa mencoba masuk lagi jika sudah tenang.

Permasalahan yang sering muncul saat try scuba atau mencoba menyelam pertama kalinya adalah perasaan yang tidak biasa, ketika harus bernafas melalui mulut, bukan hidung. Penyesuaian itu terkadang tidak mudah bagi semua orang kecuali sudah terbiasa snorkeling sebelumnya. Kemudian masalah lain adalah jika masker (kacamata menyelam) kemasukan air, pasti tidak nyaman digunakan. Sebelum percobaan menyelam, pasti sudah diajarkan cara membuang air jika masker tersebut mulai merembes atau kemasukan air. Bagi yang belum terbiasa, memang tidak mudah melakukannya di dalam air. Satu hal lain lagi adalah masalah telinga. Ketika mencoba masuk ke dalam, telinga mungkin akan terasa sakit karena adanya perbedaaan tekanan. Nah, diperlukan ekualisasi secara bertahap sejak masuk ke dalam, bukan saat sudah mulai sakit. Hal ini yang seringkali membuat penyelam panik.

Saat semua itu bisa dilewati, maka sensasi menyelam akan begitu menyenangkan. Namun, misalkan ada kendala atau masalah seperti itu, tetap menjadi pelajaran dan pengalaman baru, yang siap diperbaiki dan dicoba kembali. Itu mengapa diperlukan sertifikasi, agar penyelam terbiasa mengatasi masalah yang ada di dalam air, termasuk hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Contohnya tidak boleh naik ke permukaan dengan cepat atau tidak boleh naik ke ketinggian ataupun terbang dengan pesawat usai menyelam. Semua penjelasan dan alasannya akan diberikan saat mengambil sertifikasi.

Hunting Foto Makro

Sambil menunggu Fakhril dan Galang mencicipi sensasi tersebut, bergeserlah kami ke arah Melasti, sedikit ke arah selatan. Inilah lengkapnya area Tulamben. Mau berburu foto bawah laut dengan tipe pemandangan (wide photo) ada wreck, mau mencoba foto hewan-hewan kecil (macro photo) juga bisa.

Rany cukup puas dengan dua penyelaman saja hari ini, sehingga saatnya bebas berburu foto hewan unyu sendirian bersama guide. Makhluk andalan untuk urusan makro di Tulamben adalah shaun the sheep. Hewan kecil seukuran biji beras ini termasuk dalam golongan nudibranch (siput laut), tetapi jenis yang ini, penampakannya persis seperti karakter kartun shaun the sheep. Hidupnya di daun hijau kecil, yang berserakan di pasir dasar lautan. Tidak terlalu dalam untuk menemukannya. Waktu dulu pertama kali bertemu, butuh penyesuaian untuk membedakan mana wajahnya dan mana belakangnya, saking kecilnya. Selain shaun the sheep, banyak nudibranch lain yang bisa ditemui, flabellina, termasuk juga ada frog fish dan skeleton shrimp.

shaun the sheep, dokumentasi Fifin
shaun the sheep, dokumentasi Fifin

Kesan Pertama Pasti Tak Terlupakan

Usai penyelaman ketiga, akhirnya Fakhril mentas juga dari percobaan divingnya. “Seru banget.” Begitu katanya. “Lebih dari sekedar seru sebenarnya, tetapi sulit menggambarkankanya karena benar-benar ini adalah pengalaman baru. Bernafas mengandalkan tabung yang digendong, merasakan tekanan bawah laut melalui telinga yang serasa sedikit sakit karena terlambat melakukan ekualisasi, melihat dunia bawah laut, bertemu dengan ikan-ikan, melayang di antara lautan biru dan juga sempat berdiam dalam sunyi, mendengar nafas sendiri yang berburu. Fix, aku nabung untuk ambil sertifikasi menyelam.” Begitu simpulan akhirnya.

try scuba, dokumentasi Fakhril
try scuba, dokumentasi Fakhril

Dan… selamat datang di bawah laut Indonesia ….

bersama Rany di ujung bangkai kapal
bersama Rany di ujung bangkai kapal

 (Fifin Maidarina – Rescue Diver dan fotografer bawah laut)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *