UMKM Jadi Topik Dialog Warung Pojok Kebon Rojo Pemkab Jombang

  • Bagikan
Dialog interaktif Warung Pojok Kebon Rojo, kembali mengudara dari studio Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jombang. (Foto: Istimewa)


Dialog interaktif Warung Pojok Kebon Rojo, Sabtu 16 Oktober 2021 kembali mengudara secara offair dari studio Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jombang. Kali ini topik yang diangkat adalah Strategi Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan UMKM di Masa Pandemi.

Dipandu Cak Giono sebagai host, narasumber utama yang hadir yaitu Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Jombang M. Jawahirul Ulum, dan Ketua Asosiasi Produsen Samiler Kayangan (ASPERA) Mardiansyah Triraharjo sebagai narasumber pembanding.

Ulum mengatakan, penguatan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) merupakan salah satu upaya konkrit pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Beberapa programnya yaitu Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang sudah dikucurkan sejak 2020 melalui Kementerian Koperasi dan UKM.

“Pemerintah mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai motor ekonomi rakyat yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan pemulihan ekonomi nasional,” ungkapnya.

BPUM yang disalurkan dari APBN itu sebesar Rp1,2 juta, dan diterima pelaku usaha sekali dalam satu tahun. Di Kabupaten Jombang sendiri ada 116.729 pelaku usaha mikro yang mendapat BPUM tahun ini. “Jombang adalah daerah dengan penerima BPUM terbanyak di Jawa Timur,” imbuhnya.

Selain bantuan langsung tunai, pemerintah juga menggelontorkan dana bergulir sebagai pinjaman murah bagi UMKM. Serta memberikan relaksasi atau keringanan pembayaran pinjaman bagi UMKM.

“Pemerintah Kabupaten Jombang juga telah mengucurkan 20 milyar dari APBD untuk stimulan UMKM dan PKL. Kurang lebih ada 5.400 pelaku usaha yang menjadi penerima manfaat program ini,” tambah Ulum.

Produk-produk UMKM kata Ulum juga diupayakan masuk toko modern. Itu merupakan kerja sama Pemkab Jombang dengan perusahaan ritel dalam memasarkan produk UMKM. Mulai dari jenis makanan ringan, kue kering, kue basah, serta minuman.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Produsen Samiler Kayangan (ASPERA) Mardiansyah Triraharjo dalam dialog interaktif menjelaskan, produsen samiler di Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, adalah contoh kecil pelaku usaha yang kolaps akibat pandemi Covid-19.

“Kayangan adalah satu-satunya desa di Kabupaten Jombang yang memiliki jumlah produsen kerupuk samiler terbanyak, mencapai 40 atap. Dampak pandemi paling parah yang kami rasakan saat lebaran tahun 2020. Omset penjualan nyaris nol akibat sepinya permintaan,” katanya.

Beruntung di tengah kondisi itu, ada perhatian dari pemerintah kepada para produsen kerupuk samiler di Desa Kayangan. “Ada BPUM yang kami terima meski belum mencakup seluruh produsen, ditambah stimulan dari APBD. Kemudian bantuan sarana produksi dan fasilitasi izin edar produk samiler. Kami sampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Jombang,” lanjutnya.

Jika pada tahun mendatang bantuan stimulan untuk UMKM kembali digulirkan, Mardi mendorong pemerintah pusat dan daerah memprioritaskan UMKM padat karya. Dengan indikator kegiatan produksi yang berlangsung setiap hari. Karena selama dua tahun terakhir program stimulan digulirkan, tidak sedikit penerimanya bukan pelaku usaha murni.

“Di lapangan kami mengamati banyak penerima BPUM yang baru membuka usaha setelah menerima stimulan. Padahal sebelum masa pandemi tidak menjalankan usaha, ini harus menjadi bahan evaluasi,” pungkas Mardiansyah. (adv)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *