Unesa Bebaskan Skripsi Atlet PON, KONI Jatim: Ini Gila

  • Bagikan
Ketua Harian KONI Jatim, M Nabil. (Foto: Lensa Indonesia)


Keputusan yang dibuat oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang memberikan bonus berupa pembebasan skripsi dan tesis kepada mahasiswanya yang juga atlet di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 Papua disebut sebagai terobosan yang gila serta luar biasa.

Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, M Nabil mengaku ini merupakan ide original dari dunia pendidikan dalam memberi apresiasi kepada mahasiswa yang berhasil meraih prestasi.

“Jadi ketika ada keputusan yang dilakukan Rektor Unesa memberi apresiasi (bebas skripsi) ke atlet yang memberikan dedikasi terhadap olahraga itu keputusan gila dan luar biasa,” ungkap Nabil, Rabu 3 November 2021.

Tak hanya itu saja, Rektor Unesa Prof Nur Hasan juga memberi bonus tambahan kepada tiga atlet yakni Adinda Larasati Kirana Dewi berupa beasiswa penuh sampai jenjang S3, menjadi asisten dosen, dan jaminan menjadi dosen Unesa.

Kemudian, Dea Salsabila yang meraih emas terbanyak di Sea Games 2019, lalu emas PON Papua juga mendapat jaminan untuk menjadi dosen. Kemudian, Wahyu Anggoro atlet selam mendapat beasiswa S2 serta bebas mengikuti tes toefl yang menjadi syarat untuk dapat mengambil ijazah.

Ia menilai, apa yang dilakukan itu sangat proporsional dan logis jika melihat tugas atlet yang setiap hari harus berlatih untuk meningkatkan kemampuannya agar bisa lebih berprestasi. Apalagi, dedikasi yang diberikan oleh atlet tidak tanggung-tanggung karena ada banyak yang harus direlakan untuk mengharumkan nama daerah pun Indonesia.

“Jangan sampai kita menzalimi atlet, dia sudah berkorban menunda kuliah, menunda kelulusan, menunda menikah, menunda hamil, kita harus beri apresiasi spesial seperti yang ditunjukkan Pak Rektor (Prof Nur Hasan) yang menunjukkan negara hadir di olahraga. Potret mininya seperti ini,” jelasnya.

Karena itu, pria yang juga politisi itu berharap pemerintah dapat melihat upaya yang dilakukan Unesa ini. Ia menilai sangat layak menjadi pilot project, bahkan harus dibuat kebijakan khusus oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia tentang perlakuan khusus bagi atlet profesional. “Jangan sampai karena kekakuan sistem pendidikan kita sehingga mematikan prestasi olahraga,” pungkas Nabil.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memberi bonus bagi mahasiswa yang mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 di Papua. Bonusnya pun beragam disesuaikan dengan prestasi atlet.

Apresiasi yang diberi berupa bebas UKT selama satu semester, kemudian bebas skripsi dan tesis, beasiswa pendidikan, dan jaminan kerja sebagai dosen bagi sebagian atlet.

“Tugasnya atlet itu ada tiga. Pertama latihan, kedua latihan, dan ketiga latihan. Tugasnya itu aja, sekolah urusan wadek satu, wadek tiga, dan dekan. Kalau ada yang persoalkan, laporannya langsung ke Nur Hasan,” tutur Nur Hasan.

Nur Hasan mengatakan, bonus ini diberikan sebagai bentuk apresiasi kampus kepada atlet yang tidak hanya mengharumkan nama Unesa namun juga mengharumkan nama Jawa Timur, bahkan Indonesia di kancah internasional.

“Ini upaya kita bersama mendukung adik-adik tujuan memberi kesempatan agar atlet bisa fokus saat latihan dengan apresiasi UKT kami harap bisa lebih semangat lagi. Bahkan, kami harap bisa menjadi SDM olahraga untuk mengembangkan olahraga ke depan. Kita gak banyak dosen punya keterampilan misal di renang, olahraga tarung, lalu angkat besi,” jelas guru besar bidang olahraga itu.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *