Video Viral Vaksin Bodong, Polisi Periksa Saksi dan Nakes

Video viral vaksin bodong diikuti dengan penyelidikan dari kepolisian dan dinkes setempat. (Ilustrasi: unsplash)

[ad_1]

Kasus video viral kasus bodong berlanjut dengan penyelidikan. Kasus yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat diikuti oleh pemeriksaan kepolisan dan dinkes setempat.

Polisi Periksa Enam Saksi

Kasus tersebut berawal dari video yang menjadi viral. Di dalamnya tampak seorang nakes atau vaksinator dengan menggunakan APD sedang menyuntik vaksin di lengan pasien. Namun terlihat seolah nakes tak menekan suntik sehingga cairan vaksin diduga tak masuk ke dalam tubuh pasien.

Video itu kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dari Polres Karawang. Sebanyak enam saksi, terdiri dari tiga orang nakes dan tiga pasien, diperiksa oleh polisi dalam proses pendalaman kepolisian, menurut Kapolres Karawang AKBP Rama Samtama Putra.

Selain memerisa saksi, polisi juga akan mendatangkan bantuan dari ahli vaksin, sekaligus menginventarisir pihak yang merekam dan yang mengunggah video tersebut. Pada tahap awal, piahaknya fokus pada penerapan SOP vaksin yang dilakukan nakes. “Nanti akan disampaikan hasilnya,” katanya dikutip dari detik.com.

Nakes Dites Darah

Selain polisi, dinas kesehatan setempat juga turun tangan. Awalnya mereka mencari puskesmas hingga menemukan nakes serta pasien yang disebut merekam dan disuntik vaksin bodong itu.

Bupati Karawang dokter Cellica Nurrachadiana menyatakan jika penyelidikan sedang dilakukan.

Berdasarkan penyelidikan awal, ia menyebut jika nakes atau vaksinasitor mengaku telah menjalankan prosedur vaksinasi sesuai SOP dengan menggunakan jarum dan suntikan baru. Meski saat itu nakes tak menunjukkan jarum suntik baru pada pasien.

Sedangkan, untuk memastikan apakah vaksin telah disuntikan atau belum, pihaknya akan melakukan cek darah pada pasien tersebut. “Jika vaksinator bersalah, maka saya akan ambil tindakan tegas untuk memberi sanksi administrasi. Demikian sebaliknya, jika karyawati yang bersalah karena memposting yang tak benar maka akan ada sanksi hukumnya,” katanya. (Dtk)



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.