Vladimir Putin Tak Suka ‘Cancel Culture’, Menyamakannya dengan Intoleransi

  • Bagikan


Presiden Rusia Vladimir Putin Tak Suka ‘Cancel Culture’ karena memicu intoleransi

Foto: Mikhail Svetlov/Getty Images

Vladimir Putin diduga merencanakan pembunuhan musuh politiknya. ‘Presiden Abadi’ Rusia juga telah memenjarakan jurnalis yang mengkritik gaya pemerintahannya. Tapi kini, dia khawatir dengan “cancel culture” yang semakin lazim terjadi.

“Rasisme wajib diperangi, tapi ‘cancel culture’ di zaman modern telah berubah menjadi diskriminasi terbalik, rasisme terbalik,” kata Putin, saat menghadiri acara pertemuan Valdai Discussion Club di Sochi. Wadah pemikir berbasis di Moskow itu berhubungan dekat dengan Putin. Dia rutin menjadi pembicara setiap tahunnya untuk membahas posisi Rusia di dunia.

“Kami hanya bisa melongo melihatnya terjadi di negara-negara yang telah terbiasa menganggap sebagai negara maju dan unggul,” lanjutnya, mengutip terjemahan perusahaan media yang dikelola negara Russia Today. “Para pendukung yang disebut-sebut kemajuan sosial percaya mereka membawa kesadaran baru bagi umat manusia… tapi tindakan mereka bukan hal baru.”

 Cukup membingungkan menyaksikan salah satu pemimpin paling otoriter di dunia memperingatkan bahaya cancel culture di Rusia karena pidatonya sangat mirip dengan para tokoh penting di Amerika Serikat yang terkena praktik boikot ini. Putin bahkan menirukan strategi Republikan yang memanfaatkan pidato “I Have a Dream” Martin Luther King Jr. untuk melawan pandangan progresif tentang ras, memutarbalikkan pandangan radikal King tentang kejahatan terbesar masyarakat dan imperialisme menjadi sudut pandang yang menganggap setiap penekanan pada ras sebagai tindakan memecah belah.

“Ini hanya akan memecahbelahkan rakyat, padahal pejuang hak sipil sejati telah bekerja keras menghilangkan segala perbedaan ini,” tuturnya.

Sebagai orang Rusia, Putin merasa berada dalam posisi yang lebih baik untuk membandingkan beberapa gagasan progresif tentang keadilan sosial saat ini dengan revolusi Bolshevik pada 1917.

“Kebetulan, kaum Bolshevik sangat intoleran terhadap pendapat yang berbeda dari yang mereka yakini,” tukasnya. “Ini mungkin mengingatkan kalian pada apa yang terjadi di negara-negara Barat. Sungguh membingungkan melihat praktik yang telah lama ditinggalkan Rusia masih berlaku di dunia Barat.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *