Wabah Chikungunya Serang Mojokerto, Seribuan Warga Terjangkit

  • Bagikan
Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto melakukan fogging di Perumahan Perumda Kecamatan Sooko.(Deni Lukmantara/Ngopibareng)


Belum usainya ancaman virus corona bagi warga Mojokerto, kini virus dengue mulai mengintai kesehatan masyarakat. Ribuan warga terjangkit wabah chikungunya selain merasakan demam, rata-rata warga yang terjangkit juga mengalami nyeri sendi.

Sebanyak 1.300 orang di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, terjangkit wabah chikungunya di tengah pandemi virus corona. Lemas, seluruh badan hingga tidak bisa beranjak dari tempat tidur, bahkan mual merupakan gejala dari penyakit tersebut yang banyak dirasakan warga. Meski begitu belum ada warga di Kabupaten Mojokerto yang meninggal karena wabah chikungunya.

Dari data yang diterima dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, sejak bulan Januari 2021 hingga saat ini ribuan orang yang terjangkit wabah chikungunya itu tersebar di seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto. “Sesuai laporan, mulai Januari hingga Juni ini ada 1.300 untuk chikungunya. Kalau DBD ada sekitar 7 orang pasien,” kata Plt Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular ( P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Arif Budi Santoso kepada wartawan, Kamis 17 Juni 2021.

Arif menjelaskan, wabah chikungunya ini tersebar di seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto. Cuaca yang tidak menentu memicu munculnya penyakit wabah chikungunya. Dengan memberlakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan fogging, diharapkan bisa memutus mata rantai penularan chikungunya.

“Bisa juga karena kurangnya kebersihan terhadap lingkungan sekitar, mungkin itu yang menjadi penyebabnya. Tetap kita anjurkan selain dilakukan PSN akan kami lanjutkan dengan fogging, tetap dilakukan kerja bakti,” jelasnya.

Pihaknya mengimbau warga untuk mengantisipasi munculnya jentik nyamuk di tempat-tempat lembab. Apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan sehingga pola hidup bersih dan sehat harus diterapkan.

Saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto melakukan sosialisasi dan pengobatan terhadap warga yang terjangkit chikungunya. “Chikungunya satu sampai dua Minggu sudah sembuh dengan sendirinya, tetapi kami berikan obat simptomatik, tidak ada pengobatan khusus beda dengan DBD,” tandasnya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *