Wakil Bupati Sangihe Meninggal, Tolak Tambang Emas dan Ancamannya

  • Bagikan
Pantai di Kepulauan Sangihe. Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong meninggal setelah menulis surat permohonan pencabutan izin tambang emas milik PT TMS, di wilayahnya. (Foto: Hipwee)


Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong meninggal dalam penerbangan pulang dari Bali menuju Manado via Makassar, Rabu 9 Juni 2021. Sebelum meninggal, Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong mengirimkan surat permohonan pencabutan izin tambang untuk PT Tambang Mas Sangihe (TMS) di Kepulauan Sangihe.

Tambang Emas di Kepulauan Sangihe

Diketahui, PT Tambang Mas Sangihe akan melakukan eksploitasi, menambang emas di lahan seluas 65,48 hektare. Luasan itu, lebih dari setengah luasan total Pulau Sangihe, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Luasan tersebut baru sebagian kecil dari dari jumlah lahan konsesi yang didapat PT TMS seluas 42.000 hektar wilayah potensi emas. Karena itu, Manager Tambang PT TMS, Bob Priyo Husodo, menyebutkan bahwa eksplorasi potensi emas di titik-titik lain juga akan berlangsung, dikutip dari kompas.com.

Lahan itu terletak di Kampung Binebas, Kecamatan Tabukan Selatan, dan Kampung Bowone, Kecamatan Tabukan Selatan Tengah. Lokasi tambang di sisi tenggara Pulau Sangihe ini adalah hasil dari eksplorasi selama 2007-2013.

PT TMS telah mengantongi izin operasi produksi selama 33 tahun, terhitung sejak 29 Januari 2021 hingga 28 Januari 2054. Bob mengatakan, hal ini sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara (Minerba).

Potensi Emas di Kepulauan Sangihe

Pulau Sangihe menyimpan potensi kandungan emas. Wilayah itu menyimpan sumber daya terunjuk sebesar 3,16 juta ton dengan kadar emas 1,13 gram per ton (g/t) dan perak 19,4 g/t.

PT TMS berencana melakukan penambangan secara terbuka (open pit). Setiap tahun, komponen bijih emas yang akan dikeruk mencapai 904,471 ton dari 4 juta ton batuan. Emas akan diekstraksi dari batuan menggunakan sistem sianida. Limbah batuan akan ditempatkan di lokasi waste dump seluas 12 hektar di utara lubang tambang.

Ancaman Tambang Emas Sangihe Pada Warga

Pertambangan tersebut banyak ditolak oleh warga setempat. Mereka sebagian besar berprofesi sebagai petani dan juga nelayan. Hutan mangrove dianggap sebagai tumbuhan penting yang mendatangkan ikan bagi nelayan.Sementara petani menanam tomat, merica, jahe, singkong, keladi.

“Kalau desa ini ditambang dan tanah beralih kepemilikan, mau makan apa kami? Dengan apa kami biayai anak kami? Kami mau dipindahkan kemana?”, kata Elbi, warga setempat pada Mongabay, 28 Mei 2021.

Warga lainnya juga khawatir, meski penambangan berada di Sangihe Selatan, dampak tambang ditakutkan meluber ke Sangihe Utara. Sangihe memiliki luas total sebesar 736 km2.

Masyarakat mengaku tak pernah tahu dan tak terlibat dalam proses keluarnya izin tambang tersebut.

Dampak Tambang bagi Lingkungan Kepulauan Sangihe

Pulau Sangihe berada di dua lempeng besar Eurasia dan Pasifik, serta dua lempeng kecil Sangihe dan Laut Maluku, dan beberapa gunung api masih aktif.

Perda Tata Ruang Kepulauan Sangihe mengidentifikasi pulau kecil ini berada di daerah rawan bencana letusan Gunung Awu, letusan gunung bawah laut Banua Wuhu. “Ketika hujan, sepanjang jalan aspal sering longsor, dominan berada di wilayah yang diberikan izin tambang oleh KESDM,” kata Jull Takaliuang dari Koalisi Save Sangihe Island.

Menurut Jull, ada tujuh kecamatan dalam konsesi TMS, dengan lebih 50.000 jiwa di 80 kampung berpotensi terdampak operasi perusahaan. Juga ada hutan lindung Sangihe.

Di perairan, menurut catatan koalisi, ada sekitar 3,5 hektar mangrove di Teluk Binebase juga masuk dalam konsesi.

Sedangkan, BBC menyebut burung endemik Indonesia bernama Seriwang atau manu’iun, terancam punah bila praktik pertambangan berlangsung di wilayah yang berbatasan dengan Filipina ini. Burung kecil ini, sempat dianggap punah seabad lalu.

Selain manu’iun, ada sembilan jenis burung endemik lain yang juga terancam dan semuanya berstatus kritis dan sebagian rentan. Burung ini hidup di wilayah hutan lindung Gunung Sahendaruman, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Burung tersebut antara lain Anis-bentet Sangihe, Paok Merah Sangihe, Serindit Sangihe, Burung Madu Sangihe, Celepuk Sangihe, Raja Udang Sangihe, Udang Merah Sangihe, Kacamata Sangihe, dan Brinjiji Emas Sangihe.

Izin yang dikantongi PT TMS mencakup wilayah gunung purba seluas 3.500 hektare, rumah bagi burung endemik ini.

Wakil Bupati Sangihe Meninggal

Tambang emas Sangihe mencuat setelah Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong meninggal, pada Rabu 9 Juni 2021. Helmud Hontong meninggal dalam perjalanan pulang menumpang pesawat Lion Air, dari Bali menuju Manado, via Makassar.

Sebelum meninggal, Helmud Hontong menulis surat pribadi kepada Kementerian ESDM. Isinya, memohon agar izin tambang emas yang telah dikeluarkan kementerian kepada PT TMS, agar dicabut. (Kmp/Mga/Bbc)

 



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *