Wakil Menteri Desa Apresiasi Pengembangan Desa Wisata Banyuwangi

Wakil Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi mengunjungi Wisata Sendang Seruni di Desa Wisata Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Wakil Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi mengapresiasi pengelolaan dan pengembangan wisata berbasis Desa di Banyuwangi. Menurutnya, langkah yang dilakukan Banyuwangi ini patut dicontoh Desa-desa lain di Indonesia.

Kekaguman Budi Arie Setiadi ini terungkap saat melakukan kunjungan kerja di Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi berhasil mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Geliat Desa Wisata, menurutnya sangat nyata dengan tetap menjaga lingkungannya.

“Pariwisata yang berbasis kelestarian alam seperti inilah yang memiliki daya tahan dan lebih terjaga keberlanjutannya,” katanya.

Dia melakukan kunjungan kerja di Banyuwangi selama tiga hari mulai 31 Maret hingga 2 April 2022. Selama di Banyuwangi Dia mengunjungi sejumlah Desa Wisata yang ada di Banyuwangi. Salah satunya Desa Wisata Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

Menurutnya, Desa Tamansari, merupakan salah satu Desa Wisata yang sukses mengelola keindahan alamnya sebagai destinasi wisata. Atas upayanya tersebut, desa ini pada tahun 2021 lalu meraih juara 1 Kategori Desa Digital dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Alami, airnya segar karena langsung dari sumber. Sangat enak untuk healing. Menenangkan diri,” ungkap Budi sembari menikmati segarnya air dan sejuknya udara di Sendang Seruni, Desa Tamansari, di kaki Gunung Ijen tersebut.

Budi juga meninjau destinasi wisata berbasis Desa lainnya, yakni Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Di tempat ini dia mengunjungi Bangsring Underwater. Ini adalah salah satu obyek wisata maritim yang memadukan antara konservasi terumbu karang dan aktivitas ekonomi.

Dahulu, Bangsring adalah perkampungan nelayan yang berburu ikan dengan bom yang merusak ekosistem laut. Lambat laun populasi ikan menurun seiring rusaknya terumbu karang yang menjadi rumah ikan-ikan tersebut. Fenomena ini lantas menggerakkan anak muda di Desa itu untuk melakukan perubahan.

Mereka mulai mengonservasi kembali terumbu karang yang hancur. Aktivitas tersebut kemudian menarik minat pengunjung. Dari aktivitas ini kemudian wisata tumbuh dan perekonomian warga setempat juga ikut membaik.

“Jika potensi Desa ini dikelola dengan baik, tentu akan menggerakkan perekonomian setempat. Sehingga kesejahteraan masyarakat akan terbentuk dengan sendirinya,”  jelasnya.

Wakil Bupati Banyuwangi, Sugirah mengatakan, Banyuwangi memang menjadikan desa sebagai garda depan pembangunan. Termasuk pengembangan Desa Wisata. Ini sebagai bagian dari upaya  menyejahterakan rakyat, khususnya kelompok ekonomi arus bawah.

“Pariwisata membuka lapangan kerja sangat cepat. Selain itu, multiplier effect juga sangat terasa. UMKM, warung rakyat, hingga homestay kami tumbuh,” katanya.

Sugirah menegaskan, pemkab terus mendorong agar Desa-desa di Banyuwangi terus mengembangkan potensi-potensi wisata yang ada di daerah masing-masing sehingga mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warganya.

“Inilah kekuatan Banyuwangi. Dengan mengusung konsep pariwisata yang berbasis alam, kearifan lokal dan seni budaya akan semakin menambah daya tarik bagi  wisatawan untuk datang dan berkunjung ke Banyuwangi,” jelasnya.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.