Walikota Surabaya Akan Asramakan Anak Yatim Piatu Akibat COVID-19

  • Bagikan
Walikota Surabaya, Eri Cahyadi saat memberikan keterangan soal kesejahteraan warga di tengah pandemi Covid-19. (Foto: Fariz Yarbo/Ngopibareng.id)


Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Termasuk yang dirasakan oleh warga Kota Surabaya. Apalagi, saat ini tak sedikit anak-anak di Surabaya yang menjadi yatim piatu karena orangtuanya meninggal karena Covid-19.

Walikota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berupaya untuk memberikan seluruh hak anak-anak yatim yang tidak mampu sesuai dengan Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Untuk itu, ia mengatakan, saat ini anggaran yang dimiliki untuk menyejahterakan warga dibanding melakukan pembangunan fisik. Karena itu juga, anggaran tahun 2022 akan diutamakan untuk peningkatan kesejahteraan warga.

“Saya pun hari ini berpikir saat ini apa yang dicari, pembangunan atau pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kita utamakan. Tapi kalau melihat begini kesejahteraan warga, pendidikan anak-anak penerus bangsa lebih utama daripada membangun yang tidak dibutuhkan,” ungkap Eri Cahyadi, Sabtu 21 Agustus 2021.

Eri Cahyadi mengatakan, dalam refocusing anggaran yang sudah dilakukan tahun 2021 ini, pos anggaran pembangunan proyek paling banyak digunakan. Alhasil, banyak proyek yang saat ini dihentikan pengerjaannya.

“Saya mohon maaf kepada warga kita punya pilihan sulit tapi kalau begini harus memilih mana yang kita utamakan. Keutamaan warga, kesejahteraan masa depan anak-anak pemilik masa depan kota ini sangat penting dari pada sesuatu yang spektakuler yang akan kita bangun ke depan,” imbuhnya.

Walau begitu, Eri Cahyadi menegaskan, pembangunan tetap akan dilakukan misalnya terkait dengan antisipasi banjir saat musih hujan yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk itu, sesuai rencana ia akan menampung seluruh anak yatim piatu untuk diasuh sampai jenjang pendidikannya selesai sampai sarjana. Rencananya, anak-anak yatim yang sudah tidak memiliki keluarga dan tidak mampu akan ditampung di suatu asrama.

Sementara, Pemkot Surabaya memiliki asrama Bibit Unggul yang akan dihitung kapasitas daya tampugnya dengan jumlah anak yatim yang ada.

“Kita buat asrama tidak hanya pendidikan tapi bagaimana mereka semua punya keterampilan, memiliki kemampuan bersaing di era globalisasi saat ini,” pungkas Eri Cahyadi.

Sementara ini, berdasar data yang masuk terdapat sekitar 1.400-an keluarga yang meninggal akibat Covid-19. Dari data itu, hasil verifikasi sementara sekitar 600-an yang sudah terverifikasi, sedangkan sisanya masih di dalami oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *