Waspadai Penyakit Dystonia yang Diidap Aktor Lawas Ferry Irawan

  • Bagikan
Aktor Ferry Irawan (kanan) butuh bantuan penyangga leher untuk mengatasi penyakitnya. (Foto: Istimewa)


Aktor lawas Ferry Irawan lama vakum dari dunia hiburan Tanah Air karena sakit. Sakit yang dirasakannya sekarang adalah penyakit lama yang kambuh. Aktor kelahiran 9 Februari 1977 ini mengidap dystonia, yakni penyakit gangguan saraf otot.

Pengobatan yang tak tuntas dilakukan dahulu dikhawatirkan semakin parah kini. Sebab adik Ferry Irawan, yakni Ari menyebut, pembuluh darah kakaknya kini kian tipis. Kondisi kepala aktor 44 tahun ini sudah lemah sehingga harus memakai penyangga leher.

Tak hanya itu, lanjut Ari, kedua tangan Ferry Irawan pun kaku dan sulit bergerak. Tangan kanan Ferry Irawan beberapa waktu lalu bahkan sempat tak bisa bergerak. Hal itu merupakan efek dari dystonia. Kemudian, untuk meredakan rasa sakit, Ferry Irawan harus mendapat suntikan di bagian kepala dan badan.

Penyakit Dystonia

Dystonia merupakan sebuah kondisi medis yang ditandai oleh adanya gangguan pada pergerakan otot, sehingga otot akan berkontraksi secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara umum, dystonia dibagi dan dibedakan menjadi beberapa jenis.

Gerakan berulang-ulang pada penyakit ini menyebabkan pengidap dystonia sering kali memiliki postur tubuh yang tidak biasa dan sering mengalami gemetar (tremor). Kondisi ini dapat memengaruhi satu otot, kelompok otot, atau seluruh tubuh.

Dystonia dapat menyerang siapa saja, mulai dari pria, wanita, anak-anak, muda, tua, atau pun memiliki latar belakang, kondisi tersebut juga menyebabkan berbagai macam rasa nyeri dan tingkat kecacatannya bisa menjadi tahap ringan sampai berat.

Gejala Dystonia

Dystonia disebabkan oleh berbagai gejala, dari gejala yang terbilang ringan hingga berat. Gejala awal dystonia yakni tungkai kaki yan menjadi sseperti seret atau dragging leg, kaki akan terasa kram, leher terasa seperti ditarik, sulit untuk berbicara, dan membuat kedipan mata menjadi tidak terkendali seperti pada kedipan mata secara normalnya.

Seseorang yang menderita dystonia juga merasakan sakit dan kelelahan karena adanya kontraksi otot yang konstan. Lalu jika terjadi pada anak-anak, umumnya pertama-tama akan terjadi pad akaki atau tangan, setelah itu akan terjadi pada bagian tubuh lainyya. Ketika telah beranjak remaja, pengidap dystonia akan merasa biasa saja mengalami pelambatan perkembangan dari penyakitnya.

Ketika terjadi pada seseorang yang sudah beranjak dewasa, pada masa awalnya akan menyerang bagian atas tubuh, kemudian, progres penyakit tersebut menjadi melambat, tetapi dystonia pada orang dewasa dapat memengaruhi salah satu bagian tubuh (fokal) atau lebih dari satu bagian tubuh yang berdekatan (segmental).

Penyebab Dystonia

Untuk penyebab dari penyakit dystonia memang belum bisa diketahui secara pasti, meski begitu terdapat beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penyebab dystonia bisa terjadi pada seseorang, seperti berikut :

1. Adanya faktor kondisi medis

Adanya kondisi medis yang bisa menyebabkan seseorang mengidap dystona. Pada sebagian anak-anak yang mengidap dystonia akan mengalami seperti celebral palsy atau terjadinya gangguan gerakan. Lalu, dystonia yang terjadi pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh stroke atau tumor. Adapun hal lain yang menyebabkan dystonia yakni mengalami cedera kepala, infeksi, serta adanya gangguan fungsi otak.

2. Akibat reaksi obat

Dystonia juga bisa disebabkan oleh adanya reaksi obat seperti dopamin yang biasanya digunakan untuk pengobatan pada orang pengidap gangguan jiwa, yang memungkinkan seseorang mengidap dystonia.

3. Faktor genetik

Tak hanya faktor medis dan obat saja, dystonia juga bisa disebabkan karena adanya faktor genetik yang memungkinkan anak-anak mendapatkan gen abnormal seperti dystonia dari orang tuanya dahulunya.

Ilustrasi dystonia yang bisa memengaruhi bagian tubuh sehingga membuat bentuk tubuh menjadi tidak normal. (Grafis: Istimewa)

Klasifikasi Penyakit Dystonia

Dystonia disebabkan oleh kerusakan ganglia basal, yaitu struktur pada otak yang membantu mengontrol pergerakan tubuh. Dystonia yang menyerang pada bagian-bagian tubuh dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Dystonia multifokal memengaruhi lebih dari satu bagian tubuh yang tidak terkait,

2. Dystonia segmental melibatkan bagian tubuh yang berdekatan.

3. Dystonia umum memengaruhi sebagian besar atau seluruh tubuh.

4. Hemidystonia, yaitu dystonia yang memengaruhi lengan dan kaki pada sisi tubuh yang sama.

5. Dystonia fokal hanya memengaruhi bagian tubuh tertentu.

Jenis-jenis Dystonia

Dystonia mungkin akibat dari mutasi genetik (dystonia primer) atau gangguan karena obat (dystonia sekunder). Kenali jenis-jenis dystonia berikut ini:

1. Dystonia servikalis atau tortikolis, merupakan tipe dystonia yang paling umum. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang di usia paruh baya. Dystonia servikalis memengaruhi otot leher, menyebabkan kepala berputar dan berbalik, dan ditarik ke belakang atau ke depan secara tidak sengaja.

2. Blepharospasm yang merupakan jenis dystonia yang memengaruhi mata. Biasanya dimulai dengan berkedip tak terkendali. Pada awalnya, kondisi ini hanya memengaruhi satu mata. Sampai pada akhirnya menyerang pada kedua mata. Kejang menyebabkan kelopak mata menutup secara tak sengaja. Terkadang kondisi ini mengakibatkan kedua mata tetap tertutup. Biasanya, orang yang mengalami kejadian ini adalah orang yang penglihatannya normal. Namun dengan terjadinya blepharospasm ini, menjadikan seseorang buta secara fungsional.

3. Dystonia kranial yang memengaruhi otot kepala, wajah, dan leher.

4. Dystonia spasmodik memengaruhi otot tenggorokan yang digunakan untuk berbicara.

5. Dystonia tardive disebabkan oleh reaksi terhadap obat. Biasanya, gejalanya hanya sementara dan bisa diobati dengan pengobatan.

6. Dystonia oromandibular yang menyebabkan kejang pada rahang, bibir, dan otot lidah. Dystonia ini dapat menyebabkan masalah bicara dan menelan.

7. Dystonia torsio adalah kelainan yang sangat jarang terjadi. Kondisi ini memengaruhi seluruh tubuh dan secara serius menimpa orang yang mengidap penyakit ini. Gejala umumnya muncul pada masa kanak-kanak dan bertambah parah seiring bertambahnya usia. Peneliti telah menemukan bahwa dystonia torsio kemungkinan diwariskan dari orangtua, yang disebabkan oleh mutasi pada gen DYT1.

8. Dystonia paroksismal bersifat episodik. Gejalanya hanya terjadi saat serangan. Selebihnya orang tersebut dalam kondisi normal.

9. Kram penulis (writer’s cramp) adalah sejenis dystonia yang hanya terjadi saat menulis. Kondisi ini memengaruhi otot tangan atau lengan bawah.

Pengobatan Dystonia

Hingga saat ini belum diketahui pengobatan yanng tepat bagi penyakit dystonia. Namun ada beberapa pengobatan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya.

a. Obat-obatan harus seusai anjuran dokter antara lain trihexphenidyl, diazepam, lorazepam, baclofen, clonazepam.

b. Suntikan botox (botulinium toxin), yakni obat yang memungkinkan untuk disuntikkan secara langsung di area yang terkena dan perlu diulang setiap 3 bulan sekali.

c. Fisioterapi

Ahli medis juga bisa memberi saran untuk dilakukan fisioterapi untuk melatih kembali otot yang terkena.

d. Operasi

Untuk mengatasinya bisa pula dilakukan tindakan operasi dengan memasangkan alat khusus untuk mengalirkan arus listrik ke otak (deep brain stimulation) atau memotong saraf yang mengatur otot yang terkena (selective denervation and surgery).

Komplikasi Dystonia

Beberapa komplikasi yang bisa dialami oleh penderita dystonia meliputi:

1. Kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena terhambat dalam bergerak.

2. Kesulitan untuk menelan atau berbicara.

3. Kesulitan dalam melihat, jika dystonia menyerang kelopak mata.

4. Mengalami masalah psikologis, seperti gangguan kecemasan atau depresi.

Cara Mencegah Dystonia

Penyakit dystonia mungkin belum diketahui secara pasti mengenai penyebabnya hingga seseorang bisa terkena dystonia, tetapi dapat dicegah dengan cara berikut:

1. Mengurangi stres berat

2. Jangan sampai kelelahan

3. Mengurangi agitasi

4. Jangan terlalu banyak berbicara

Penyakit yang dialami oleh aktor Ferry Irawan mungkin baru diketahui oleh sebagian orang. Mungkin ada juga yang berpikir seperti penyakit stroke. Namun sebenarnya, dystonia berbeda dengan stroke. Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *