YIA Manfaatkan Air Hujan Melalui Sistem Reverse Osmosis untuk Penuhi Kebutuhan Air Bersih

  • Bagikan


Jakarta, SuaraKupang.com – PT Angkasa Pura I (Persero) senantiasa memperhatikan aspek pelestarian lingkungan hidup dalam kegiatan operasional berbagai bandaranya. Salah satunya adalah pelestarian air dengan pemanfaatan air hujan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Pemanfaatan air hujan dilakukan dengan membangun fasilitas rain water tank kawasan yang berfungsi untuk menangkap, mengumpulkan, mengolah, meresapkan air limpasan hujan untuk digunakan sebagai sumber air alternatif bagi keperluan operasional bandara. Air hujan ditadah dan dikumpulkan untuk kemudian disaring menggunakan sistem reverse osmosis.

“Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA memang dirancang dan dibangun dengan memperhatikan aspek pelestarian lingkungan hidup pada berbagai aspeknya, mulai dari perangkat utilitas yang ramah lingkungan, penghematan energi, hingga penghematan air. Oleh karena itu, pada 2021 ini YIA meraih Sertifikat ‘Gold’ Greenship dari Green Building Council Indonesia. Adapun terkait penggunaan air, YIA juga memanfaatkan air hujan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih terkait kegiatan operasional. Dengan memanfaatkan air hujan, YIA dapat menghemat penggunaan air PDAM,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi di Jakarta, Kamis (2/9).

Adapun pada masa pandemi, kebutuhan air bersih YIA sebesar sebanyak 276 meter kubik per hari atau 8.280 meter kubik per bulannya. Dalam satu bulan, sebanyak 4.485 meter kubik air dipasok dari air hujan melalui sistem air tadah hujan atau rain water tank kawasan YIA. Untuk satu tahun, berdasarkan prakiraan musim hujan di area Yogyakarta yang diperkirakan berlangsung selama 8 bulan, maka penghematan air di YIA dalam satu tahun sebesar 35.880 meter kubik atau setara dengan Rp538.000.000 per tahun.

Untuk mewujudkan bandara yang ramah lingkungan, selain penghematan air, YIA didukung berbagai perangkat utilitas yang mendukung konsep ramah lingkungan seperti penggunaan lampu LED, elevator, lift dan travelator yang menggunakan fitur sleep mode, sanitair dengan fitur dual flush and auto faucet, serta penggunaan kaca bangunan Sunergy Green yang mampu merefleksikan sinar matahari dengan baik dan mendukung efisiensi penggunaan pendingin ruangan di dalam area terminal.

Selain memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan hidup, YIA dirancang dengan arsitektur bergaya modern. Namun secara eksterior dan interior tetap menggambarkan budaya Yogyakarta, baik itu melalui instalasi karya seni  (artwork) yang melibatkan berbagai seniman lokal Yogyakarta, serta beragam area yang telah didesain secara khusus untuk menjadi etalase Yogyakarta, Kulon Progo, dan sekitarnya.

YIA dibangun dengan investasi dana sebesar Rp11,3 triliun, di mana Rp7,1 triliun digunakan untuk pembangunan fisik dan Rp4,2 triliun untuk pembebasan lahan. Dengan luas terminal sebesar 219.000 meter persegi dan total luas area bandara mencapai 587 hektar, menjadikan YIA sebagai salah satu bandara terbesar di Indonesia dengan kapasitas saat ini dapat menampung hingga 20 juta penumpang per tahun atau 11 kali lebih besar dari Bandara Adisutjipto yang hanya dapat menampung 1,6 juta penumpang per tahun. Pada kapasitas ultimate, YIA nantinya dapat menampung hingga 24 juta orang per tahun.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *