Ziarah Makam Auliya Melahirkan Rasa Malu

  • Bagikan
Ziarah Lebaran Maulana Muhammad Lutfi bin Yahya di Makam ayahandanya Habib Ali bin Hasyim bin Yahya, Sapuro, Pekalongan  Habib Luthfi: Ziarah Makam Auliya Melahirkan Rasa Malu  Rais Aam Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAH) Habib Luthfi bin Yahya selalu menebarkan kebaikan dan mengambil pejalaran hikmah dari para wali dan auliya'. Apalagi, pada Hari Idul Fitri merupakan kesempatan yang baik bisa dimanfaatkan untuk berziarah ke makam leluhur. Ketika Habib Luthfi ditanya tentang keistimewaan ziarah kubur, inilah kisah indahnya. Saya pernah ditanya: “Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?”, Saya jawab: “Malu!” Jawaban saya masih dikejar: “Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah”. “Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya," jawabsaya. Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, sudah berapa ratus orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari? Makam Sunan Kalijaga, berapa ratus orang yang sudah menyebut nama Allah di sana tiap malam? Sunan Muria, sudah berapa ribu orang yang membaca Qur'an dan membaca shalawat di sana (Muria)? Saya sendiri saja masih susah mengajak anak-anak sehabis maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran. Bagaimana bisa seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup. Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut kepada anak-anak kita. Seharusnya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga siapa Kiai Sentot Prawirodirjo, siapa Kiai Diponegoro, siapa Jenderal Sudirman, karena kita semakin lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa para pahlawan yang harus dibayar untuk “membeli” bendera itu. Coba kita kenalkan para pahwalan itu setiap habis maghrib. Ibarat kita sudah merdeka ini, seperti ada hidangan di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Tapi bukannya melahap, eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba. Makam Sunan Ampel saja, yang sudah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan masyarakat sekarang yang masih hidup. Pintu makam selalu dibuka, semua orang dapat menziarahi, apapun warna kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri banyak orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang dapat menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang sudah mati saja masih bisa begini, tapi kita yang masih hidup tidak bisa apa-apa.  Demikian pesan-pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Semoga bermanfaat untuk menjadi renungan kita bersama. (Foto: Istimewa)


Rais Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAH) Habib Luthfi bin Yahya selalu menebarkan kebaikan dan mengambil pejalaran hikmah dari para wali dan auliya’. Apalagi, pada Hari Idul Fitri merupakan kesempatan yang baik bisa dimanfaatkan untuk berziarah ke makam leluhur.

Ketika Habib Luthfi ditanya tentang keistimewaan ziarah kubur, inilah kisah indahnya.

Saya pernah ditanya: “Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?”,

Saya jawab: “Malu!”

Jawaban saya masih dikejar: “Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah”.

“Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya,” jawabsaya. Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, sudah berapa ratus orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari?

Makam Sunan Kalijaga, berapa ratus orang yang sudah menyebut nama Allah di sana tiap malam?

Sunan Muria, sudah berapa ribu orang yang membaca Qur’an dan membaca shalawat di sana (Muria)?


Ziarah Lebaran Maulana Muhammad Lutfi bin Yahya di Makam ayahandanya Habib Ali bin Hasyim bin Yahya, Sapuro, Pekalongan.

Saya sendiri saja masih susah mengajak anak-anak sehabis maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran.

Bagaimana bisa seramai di makam para auliya` Allah Walisongo?

Padahal mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup.

Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut kepada anak-anak kita. Seharusnya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga siapa Kiai Sentot Prawirodirjo, siapa Kiai Diponegoro, siapa Jenderal Sudirman, karena kita semakin lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa para pahlawan yang harus dibayar untuk “membeli” bendera itu.

Coba kita kenalkan para pahwalan itu setiap habis maghrib.

Ibarat kita sudah merdeka ini, seperti ada hidangan di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Tapi bukannya melahap, eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba.

Makam Sunan Ampel saja, yang sudah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan masyarakat sekarang yang masih hidup.

Pintu makam selalu dibuka, semua orang dapat menziarahi, apapun warna kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri banyak orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang dapat menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang sudah mati saja masih bisa begini, tapi kita yang masih hidup tidak bisa apa-apa.

Demikian pesan-pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Semoga bermanfaat untuk menjadi renungan kita bersama.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *